Jumat, 21 Mei 2010

"_Abu Nawas_"



Nama aslinya ialah Abu Ali al-Hasan ibnu Hani al-Hakami. Ia lahir di Ahwaz, Persia (Iran sekarang) pada 136 H (738 M). Ayahnya, Marwan bin Muhammad, anggota legiun militer khalifah terakhir Bani Umayyah di Damaskus, Harun al-Rasyid. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol. Sejak kecil ia sudah yatim. Sang ibu kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di kota inilah ia belajar berbagai ilmu pengetahuan.

beliau adalah seorang sufi yang mashur dengan puisi pertaubatannya,dan inilah puisi yang ia lantunkan dalam rangka merayau sang kholik sekaligus sang khubb
Ilahi lastu lil firdausi ahla, wala aqwa ‘ala naril jahimi
Fahabli taubatan wagfir dzunubi, fainnaka ghafirudz dzanbil ‘adzimi…
Ya Allah…tidak layak aku masuk ke surgamu
Tetapi, hamba tiada kuat menerima siksa neraka-Mu
Maka, kami mohon taubat dan ampun atas dosaku
Sesungguhnya, Engkau Maha Pengampun atas dosa-dosa…
Dzunubi mitslu a’dadir rimali, fahabli taubatan ya dzal jalali
Wa ‘umri naqishu fu kulli yaumi, wa dzanbi zaidun kaifa htimali
Dosa-dosaku seperti butiran pasir di pantai
Maka anugerahilah hamba taubat, wahai yang Memiliki Keagungan
Dan umur hamba berkurang setiap hari
Sementara, dosa-dosa hamba selalu bertambah, apalah dayaku….
Ilahi ‘abdukal ‘ashi ataka, muqirran bi dzunibi wa qad di’aka
Fain taghfir fa anta lidzaka ahlun, wain tadrud faman narju siwaka
Ya…Allah hamba-Mu penuh maksiat, yang datang kepada-Mu bersimpuh memohon ampunan
Jika Engkau ampuni, memang Engkau adalah Pemilik Ampunan
Tetapi jika Engkau tolak, maka kepada siapa lagi aku berharap?
—Abu Nuwas—

Penggalan puisi di atas merupakan puisi monumental karya Abu Nuwas yang sering dilantunkan oleh segenap umat Islam di segala penjuru. Baik itu menjelang shalat Maghrib ataupun menjelang shalat Subuh. Puisi pertaubatan Abu Nuwas ini dikenang sepanjang masa. Tetapi, hampir semua orang terutama di Indonesia terlanjur mengenal Abu Nuwas sebagai sosok pelawak. Mungkin hal ini akibat adanya pengaruh buku Hikayat Abu Nawas saduran Nur Sultan Iskandar, terbitan Balai Pustaka, yang menjadi bacaan wajib murid-murid sekolahan sejak tahun 1930 sampai 1950-an. Namun, dalam sekelumit tulisan ini yang ingin diungkap adalah kisah sejati seorang Abu Nuwas bukan sebagai seorang pelawak, tetapi Abu Nuwas sebagai seorang penyair kenamaan pada masanya.

sajaknya begitu menyentuh,hingga kita teralir ke alam renung kita dengan sendirinya.....
met nostalgia yaaaach.....................

Tidak ada komentar: