Sabtu, 18 September 2010

"air mata yang ku rindu"


Pengetahuanku beradu
pada dinding ibaku
tepekur haru

teringsut dalam dasr jiwa
aku rindu air mata hari lalu
yang menetes tiap waktu
aku rindu duhai kekasihku
ya sayyidy ya rosulullah,,,,,,,,,,,,,,,,,,
dada ini bergetar
dalam amarah yang tak dimengerti

segala rasa hambar, buram, berbaur !!!
seperti kerancuan warna lukisan anak kecil dirumah tua
yang melebur,,,

memburu desahan waktu yang tak menentu
aku tersungkur takluk di dan pada haribaan-Mu

ya sayyidy ya Rosulullah...


vanera el_arj
xbeber 2010

3 komentar:

nulis yuuuk!!! mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Sidda Rachmi Kamandaka mengatakan...

Muadzin, menikmati puisi-puisimu, aku yakin kau punya kekuatan berkembang. Sayangnya kau terjebak pada model puisi jaman BP: puisi berkisah, naratif, mendayu, dan suarakan cinta, dan nelangsa. Nah coba deh untukbuat puisi modern yang punya vareasi diksi yang kadang liar, kadang bergejolak. Sukses, kawan.

nulis yuuuk!!! mengatakan...

trims banget mba... oya kira kira aku musti belajar puisi liar ma siapa mba??