Jumat, 11 Februari 2011

Seorang Bocah Diemperan Rumah

Seperti dingin membalutkan uap malam

Melingkarkan selimut ke hangat,

Sinar fajar dibiarkan tercecer berserak

Sebuah nama dimasa depan terlupa

;diberi sesaji

Hanya sedikit diperciki sisa angin mengembun

;asam

Yang enggan pergi dari peraduannya

Jadi terbungkus,

Jadi mendengus,

Sedang bara anggun tadi malam tlah hangus

Seakan semua ciut terenggut maut

Celoteh para resi hanya sebatas ilusi

Rutinitas tak berbekas

Sesekali seorang anak kecil

men-depis

Jadi mengempis,

Jadi menangis,

Diemperan rumah-rumah pengetahuan

Mengais harap

Memandang atas, meratap

Menceracau kata tak bersuara

Tak dipeduli;

Tak dimengerti;

Tak dipahami;

Namun angin masih mengert i

“Nama masa depan…”

18-06-2010

Tidak ada komentar: